Thursday, March 12

Greenwich Mean Time (GMT), apakah itu?

Setiap ponsel yang baru dibeli atau di restart ulang, pasti kita akan diminta untuk menyeting waktu, dan ada pilihan GMT+0, GMT+1, GMT-1, GMT-2 dan seterusnya. Tapi apakah kita tahu arti dan kepanjangan dari GMT tersebut?

GMT adalah kepanjangan dari Greenwich Mean Time. Lalu mungkin akan timbul pertanyaan, apa sih Greenwich itu? sebuah negarakah, sebuah tempatkah, sebuah kotakah?. Sebelum mengetahui lebih panjang mengenai GMT, kita harus tahu terlebih dahulu apakah Greenwich itu. 

Greenwich
Greenwich adalah sebuah distrik di sebelah tenggara kota London, InggrisGreenwich terkenal karena sejarah maritim dan memberikan nama kepada Meridian Greenwich ( bujur 0°) dan Greenwich Mean Time. Kota ini menjadi tempat sebuah istana Royal, Istana Placentia dari abad ke-15, dan merupakan tempat kelahiran dari House of Tudor, termasuk Henry VIII dan Elizabeth I. Istana ini pun rusak selama Perang Saudara Inggris dan dibangun sebagai Royal Rumah Sakit Angkatan Laut untuk Pelaut oleh Sir Christopher Wren dan asistennya Nicholas Hawksmoor. 
Bangunan ini menjadi Royal Naval College pada tahun 1873, dan mereka tetap menjadi pendirian pendidikan militer hingga 1998 ketika mereka jatuh ke tangan Yayasan Greenwich. Kamar-kamar bersejarah di dalam bangunan ini tetap terbuka untuk umum, bangunan lain yang digunakan oleh University of Greenwich dan Trinity College kota Music.The menjadi sebuah resor populer di abad ke-17 dengan rumah-rumah besar, seperti benteng Vanbrugh didirikan pada Maze Hill , di samping taman. Dari perkebunan periode Georgia, rumah dibangun di atas pusat kota. Koneksi maritim Greenwich dirayakan pada abad ke-20 dan National Maritime Museum di bangunan bekas Rumah Sakit Royal School pada tahun 1934. Greenwich merupakan bagian dari Kent hingga 1889 diciptakan County of London.

Greenwich Mean Time (GMT)
GMT adalah rata-rata waktu matahari, yang dilihat dari Royal Greenwich Observatory (Observatorium Kerajaan di Greenwich, yang melalui Konvensi, disepakati daerah tersebut adalah 0 derajat garis bujur. Garis bujur (Meridian) adalah garis imaginer yang menghubungkan utara dan selatan. Secara teori, pada tengah hari adalah saat dimana matahari melewati meridian Greenwich dan mencapai titik tertinggi di langit Greenwich. Kejadian tengah hari di Greenwich ini bisa 16 menit berbeda dari waktu nyata matahari.
Royal Greenwich Observatory
Kemudian, dari Greenwich lah bumi dibagi-bagi dalam garis bujur imaginer. Setiap 15 derajat sama dengan satu jam. Dan setiap 15 derajat dari sana dihitung berbeda 1 jam dalam hitungan 24 jam. Perhitungan hari dan penanggalan internasional pun dimulai dari jarak 180 derajat dari Greenwich.

Sir Stanford Fleming
Perbedaan waktu dari setiap belahan bumi juga bisa dihitung berdasarkan posisi kita di garis bujur. Karena 1 putaran bumi membutuhkan kurang lebih 24 jam, maka perbedaan waktu satu jam dapat di hitung sebagai berikut : 360 derajat/24 jam = 15 derajat garis bujur. Artinya setiap perbedaan 15 derajat garis bujur di muka bumi, maka akan berbeda waktu sebesar 1 jam. Pembagian zona ini di rintis oleh seorang Kanada bernama Sir Stanford Fleming.

Sebagai ilustrasi perhitungan waktu, jarak Indonesia dari Greenwich sebesar 95-141 derajat bujur timur. Maka perbedaan waktunya adalah 95/15 = 7 jam lebih awal dari waktu Greenwich. Jadi jika di Jakarta sudah jam & pagi, maka di Greenwich masih tengah malam (jam 12 malam). Sebaliknya, jika di Greenwich waktu menunjukkan jam 7 pagi dan di suatu lokasi masih menunjukkan jam 12 malam, maka daerah tersebut tergolong dalam satuan waktu GMT-7.
Demikian, semoga ada manfaatnya dan anda #jadimengerti

Salam

Sumber
Wikipedia
http://majlisdzikrullohpekojan.org/
langitselatan.com
yafi20.blogspot.com

Mungkin anda juga suka artikel lainnya :

Tuesday, March 10

Observatorium Mohr, Observatorium tertua di Jakarta

Observatorium adalah bangunan yang ditujukan untuk mengamati langit dan bumi dalam disiplin ilmu astronomi, meteorologi, geologi, oseanografi dan vulkanologi. Namun dalam praktiknya nama observatorium lebih sering disematkan kepada bangunan yang dikhususkan untuk mengamati benda-benda langit dan peristiwa-peristiwa langit sekaligus mencatatnya. Maka observatorium berbeda bila dibandingkan dengan proto-observatorium, dimana yang terakhir ini lebih merujuk kepada bangunan multifungsi yang juga berperan sebagai pos observasi benda langit, baik secara rutin maupun sesekali.


Observatorium tertua di Indonesia (dan bukan proto-observatorium) adalah observatorium Mohr. Dinamakan demikian sebab observatorium ini merupakan milik pribadi seorang Johann Mauritz Mohr (1716-1775), ilmuwan Belanda yang juga pendeta Kristen, yang tinggal di Batavia pada masa kekuasaan VOC. Observatorium yang dibangun di atas tanah pribadi Mohr di Mollenvliet (kini Glodok, Jakarta Barat) berdampingan dengan wihara Kim tek I atau Cin te Yuen/Jinde Yuen (kini wihara Dharma Bhakti, Glodok) berbentuk menyerupai bagian depan observatorium Uraniborg (Denmark), tempat kerja astronom Tycho Brahe dua abad sebelumnya, namun dalam skala lebih kecil dan lebih diperkuat.

Observatorium itu berupa bangunan enam lantai yang adalah bangunan tertinggi di Batavia, dengan puncak atap datarnya setinggi 30,5 meter dari permukaan tanah serta memiliki panjang 22,5 meter dan lebar 17,5 meter. Ongkos pembangunannya mencapai 200.000 gulden atau setara Rp 82 milyar (kurs Juni 2012), hampir dua kali lipat lebih mahal dibanding ongkos pembangunan istana Gubernur Jenderal VOC di Buitenzorg (kini istana Bogor). Kemegahannya menjadi buah bibir di Batavia, bahkan dalam dunia ilmiah internasional. Sehingga jalan penghubung observatorium dengan jalan raya Mollenvliet Barat (kini Jalan Gajah Mada) pun dinamakan torenlaan atau gang Torong dalam istilah lokal.

Observatorium Mohr dilengkapi dengan instrumen astronomi terbaik pada masanya. Di antaranya jam astronomik setinggi 180 cm dengan lebar 43 cm, sepasang globe berdiameter 60 cm, kuadran astronomik bergaris tengah 60 cm, instrumen equal-altitude (teodolit?) selebar 60 cm, mesin paralaktik, oktan laut sepanjang 76 cm, teleskop sepanjang 550 cm, pluviometer (pengukur curah hujan), anemometer dan kompas. Observatorium Mohr dibangun sejak 1765 dan berfungsi hingga sepuluh tahun kemudian. Selama masa itu dilakukan
Pluviometer
berbagai observasi langit dan sejumlah fenomena alam, diantaranya Jupiter dan satelit-satelitnya, transit Venus 4 Juni 1769, transit Merkurius 10 November 1769, curah hujan Batavia, dinamika angin dan deklinasi magnetik Batavia. Tiadanya dukungan VOC, terutama lewat Gubernur Jenderal van de Parra, membuat hanya laporan transit Venus dan Merkurius saja yang sempat terpublikasikan secara luas. Bagaimanapun, aktivitas Mohr menginspirasi terbentuknya 
Batavia Society of Arts and Sciences (Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen) pada 1778.

Aktivitas observatorium Mohr harus terhenti setelah Johann Mauritz Mohr wafat pada 25 Oktober 1775. Tidak ada yang melanjutkan kinerja observatorium ini. Pada 1780, bangunan observatorium rusak berat setelah diguncang gempa kuat yang menghancurkan sebagian Batavia. Kemalangan bertambah lagi dengan wafatnya istri Mohr pada Mei 1782. Namun sebelum wafat, istri Mohr telah menjual instrumen observatorium kepada Johanes Hooijman, yakni pada tahun 1776, dalam kondisi sebagian besar rusak oleh tingginya kelembaban udara Batavia. Hooijman mengirimkannya kembali ke Belanda untuk diperbaiki dan kini sejumlah instrumen itu terpampang pada beberapa museum di Belanda.


Daendels
Pada Juni 1782, bangunan yang telah rusak itu dijual dan selanjutnya pada 1784 beralih lagi ke tangan Willem Vincent van Riemsdijk dari keluarga Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jeremias van Riemsdijk. Riemsdijk mengubah bangunan itu menjadi penginapan murah sebelum kemudian Gubernur Jenderal Daendels, yang dikenal akan kekejamannya, menutupnya dan mengubahnya jadi barak tentara. Sebagian bangunan itu masih tersisa hingga 1812, namun pada 1844 hanya tinggal pondasinya saja yang masih terlihat.

Dimanakah lokasi tapak observatorium Mohr pada masa kini?
Observatorium Mohr hanya disebutkan terletak di Glodok masa kini, namun dimana posisi sesungguhnya tapaknya tidak jelas. Pasca 1844, tidak ada kejelasan bagaimana status sisa bangunan dan lahan yang pernah menjadi observatorium Mohr. Terlebih salah satu penanda kolektif kota Batavia akan eksistensi observatorium ini, yakni gang Torong, telah bersalin nama sejak 1945.

Glodok 1932
Beruntung terdapat lukisan-lukisan yang menggambarkan situasi observatorium Mohr, seperti dari Johannes Rach dan J. Clement. Terdapat dua lukisan Rach, yang pertama menggambarkan observatorium Mohr dari jauh yakni dari jalan Mollenvliet Barat dan yang kedua menggambarkannya berdampingan dengan wihara Kim Tek I. Sementara lukisan Clement menggambarkan arsitektur observatorium Mohr dilihat dari bagian depan (arah timur) dan sisi utara. Wihara Kim Tek I (Dharma Bhakti) hingga kini masih ada di Glodok, sehingga dapat dipastikan tapak observatorium Mohr berada di sekitar wihara ini.

Namun, di sebelah mana wihara?
Semula diduga tapak observatorium Mohr terletak di sebelah barat wihara, di lokasi yang kini menjadi lahan Yayasan Pendidikan Ricci dan Gereja Katolik Santa Maria de Fatima. Alasannya, lukisan kedua Rach dianggap mengabadikan pemandangan observatorium dan wihara dari arah timur. Karena observatorium terletak di sisi kanan agak ke belakang dari wihara, maka ditafsirkan tapak observatorium Mohr berada di sebelah barat wihara. Selain itu lahan Mohr, setelah dikuasai pemerintah kolonial Hindia Belanda, dianggap beralih ke tangan kapitan Tionghoa bermarga Tjioe dan kemudian dibeli yayasan dan gereja Katolik tersebut pada 1953.
Vihara Dharma Bhakti
Namun tinjauan lapangan yang dipadukan analisis komprehensif lukisan kedua Rach dengan lukisan Clement menyajikan hasil berbeda. Jika Clement benar dalam perspektifnya, maka bangunan observatorium Mohr memiliki sisi-sisi bangunan yang simetris, khususnya pada sisi yang saling berhadapan. Sehingga sisi utara berbentuk sama dengan sisi selatan dan demikian pula sisi barat dengan sisi timur. Jika pengetahuan ini diterapkan dalam memandang lukisan kedua Rach, maka bisa disimpulkan titik tempat Rach mensketsa lukisan keduanya bukanlah di sebelah timur, melainkan di sebelah utara atau selatan kedua bangunan tersebut.

Kunci selanjutnya guna mengetahui tapak observatorium Mohr di masa kini terletak pada arsitektur wihara Dharma Bhakti. Lukisan kedua Rach memperlihatkan gambaran wihara dari arah salah satu pintu gerbangnya. Perbandingan dengan foto wihara dari dekade 1930-an yang dikoleksi Troppenmuseum dan tinjauan lapangan memperlihatkan, meski di masa kini bentuk pintu gerbangnya sudah berubah, namun ada pemandangan serupa yang masih tetap ada. Yakni panorama atap bangunan wihara yang mengesankan bertumpuk dua di latar belakang, serta bangunan wihara lainnya di sisi kiri. Panorama tersebut hanya terlihat jika kita memandang seluruh kompleks wihara hanya dari arah selatan, tepatnya dari arah pintu gerbang utamanya. Apa yang mengesankan sebagai atap bertumpuk dua sebenarnya atap dari dua bangunan utama wihara namun keduanya memiliki ketinggian berbeda.

Penggalan-penggalan jalan dalam lukisan kedua Rach pun masih bisa diidentifikasi pada saat ini. Jalan di depan pintu gerbang wihara kini menjadi Jalan Kemenangan 3, sementara jalan di sisi kanan (yang memisahkan kompleks wihara dan observatorium Mohr) menjadi Jalan Kemenangan Raya. Karena dalam lukisan kedua Rach observatorium Mohr digambarkan terletak di sebelah kanan kompleks wihara, maka dapat disimpulkan bahwa tapak observatorium Mohr terletak di sisi timur wihara Dharma Bhakti.

Lukisan Rach menggambarkan observatorium Mohr sebagai bangunan enam lantai, dengan lantai pertama terlukis separuh. Dengan ketinggian 30,5 meter, maka tinggi rata-rata tiap lantai adalah 5 meter. Cukup menarik bahwa batas antara lantai pertama dan kedua observatorium berada pada level relatif sama dengan puncak atap bangunan utama wihara Dharma Bhakti. Maka dengan menganggap tinggi puncak atap bangunan utama tersebut adalah 4 meter, tapak observatorium Mohr persis berseberangan dengan bangunan utama wihara, dipisahkan sepenggal jalan Kemenangan Raya. Amat menarik perhatian bahwa kini bahwa di tempat tersebut terdapat sepetak lahan, tepatnya pada koordinat 6,1440 LS 106,8131 BT. Lahan tersebut diapit sepasang jalan kecil (gang) masing-masing jalan Kemurnian 2 di sisi selatannya dan jalan Kemurnian 1 di sisi utaranya. Bila ukuran observatorium Mohr (yakni panjang 22,5 meter dan lebar 17,5 meter) diplotkan dalam lahan yang kini dimiliki perorangan tersebut, ternyata ukurannya pas.
Perkiraan Lokasi Observatorium Mohr

Semoga bertambah pengetahuan dan anda #jadimengerti

Sumber : National Geographic Indonesia


Mungkin anda juga suka artikel lainnya :
Hal-hal yang perlu anda ketahui tentang darah